Tertawa Tanpa Layar: Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional di Halaman Sekolah Wahyu Tri Susilo, August 15, 2026August 16, 2026 Langkah-langkah kecil itu melompat tangkas melintasi ikatan tali karet yang terbentang. Gelak tawa pecah di halaman sekolah saat hula hoop berputar riang di pinggang, beradu cepat dengan keriuhan langkah serentak siswa di atas bakiak kayu. Di sudut teras, jemari kecil sibuk memindahkan batu kecil(Kerikil) di atas papan dakon. Suasana riuh ini menjadi pemandangan alami yang kian langka di era layar sentuh. Bagi 75 siswa tersebut, hari itu menjadi momen istimewa untuk berinteraksi langsung tanpa sekatan gawai. Inisiatif ini lahir dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang prihatin melihat ketergantungan anak pada handphone. Setelah seminggu melakukan pendekatan di kelas, tim KKN resmi membuka arena empat permainan tempo dulu tersebut pada minggu kedua sebagai kejutan manis. Bermain Holahoop Bersama siswa MI Hayatul Islam (foto:wahyu) Kejutan Masuk Sekolah dan Manfaat bagi Anak Kedatangan arena permainan tradisional ini memang sengaja tidak diberitahukan terlebih dahulu agar siswa merespons secara alami. Kejutan ini pun disambut hangat oleh pihak pengajar karena memberikan variasi pengalaman belajar yang menyegarkan sekaligus menyehatkan. Kepala Sekolah Iva Yudhiana,S.Pd.I mengapresiasi tinggi antusiasme para siswa saat menyambut kegiatan ini. “Kalau melihat antusiasmenya, anak-anak senang. Siapapun tamunya, pasti anak-anak antusias. Kalau sering diajak bermain tradisional, anak-anak lebih mengenal permainan yang dulu dimainkan bapak ibunya,” tuturnya. Beliau juga menegaskan bahwa permainan fisik seperti bakiak, lompat tali, hula hoop, dan dakon membawa dampak positif bagi tumbuh kembang siswa. “Manfaatnya pertama untuk kesehatan karena anak-anak gerak ke sana kemari membuat fisiknya lebih kuat. Kedua, mengurangi penggunaan gadget. Gadget itu mengurangi konsentrasi, tapi permainan tradisional lebih meningkatkan konsentrasi,” tambah Kepala Sekolah. Bermain Dakon bersama Siswa MI Hayatul Islam (foto:wahyu) Harapan Melestarikan Tradisi Bermain Di tengah derasnya arus modernisasi, pihak sekolah menilai pengenalan permainan tempo dulu merupakan hal yang wajib untuk menjaga identitas budaya anak. Momentum nasional seperti perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dianggap sebagai saat yang sangat ideal untuk melestarikan tradisi permainan ini secara konsisten di lingkungan sekolah. “Ini harus diperkenalkan, hukumnya wajib. Jadi kalau bisa, momen 17 Agustus itu yang dipermainkan yang tradisional-tradisional, supaya mereka lebih mengenal akar budayanya,” tegas Kepala Sekolah. Baik mahasiswa KKN maupun pihak sekolah berharap kebiasaan positif ini terus berlanjut di rumah. Harapan utamanya, anak-anak dapat meneruskan permainan bakiak, lompat tali, hula hoop, dan dakon bersama teman-teman sebaya mereka—membuktikan bahwa keceriaan sejati bisa diraih tanpa harus menatap layar. Samudra bakiakdakonedukasi anakhula hoopkegiatan KKNkegiatan sekolahkesehatan anak SDkurangi gadgetlompat talipermainan tradisional kegiatan KKN edukasi anak bakiak lompat tali dakon hula hoop kurangi gadget kesehatan anak SDkegiatan sekolah