Menjaga Masa Depan Pemuda: Upaya Memutus Rantai Pernikahan Dini Desa Purwosekar Wahyu, August 18, 2026August 18, 2026 Malam itu, ruang pertemuan Desa Purwosekar tampak riuh oleh diskusi hangat puluhan anak muda. Puluhan remaja dari Karang Taruna, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tampak tekun mendengarkan pemaparan materi. Tidak sekadar berkumpul, mereka menyatukan langkah untuk menghadapi ancaman nyata di lingkungannya: maraknya pergaulan bebas dan risiko masa depan akibat pernikahan dini. Langkah ini diprakarsai oleh tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Purwosekar pada Jumat, 14 Agustus 2026. Menghadirkan Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. sebagai pemateri utama, sosialisasi ini digelar berdasarkan fakta lapangan bahwa wilayah Purwosekar masih mencatatkan sejumlah kasus pernikahan di bawah umur dan pergaulan bebas. Lewat edukasi interaktif ini, para pemuda diajak untuk membuka wawasan agar lebih bijak dalam mengambil keputusan hidup. Langkah Nyata Pemuda Memahami Relasi dan Bahaya Pergaulan Bebas Edukasi yang disampaikan memberikan sudut pandang baru bagi para peserta yang hadir. Deva, Ketua IPPNU Desa Purwosekar, mengungkapkan bahwa materi yang diberikan sangat relevan dan membuka pemahamannya mengenai cara menjaga batasan sosial serta memilih lingkungan pertemanan yang sehat. “Menurut saya, banyak sekali yang saya dapat dari sosialisasi hari ini. Kami jadi lebih memahami karakteristik pemuda-pemudi, termasuk bagaimana mengenali ciri-ciri orang yang toxic. Dari situ, kita juga bisa lebih selektif dalam memilih teman. Jadi, tidak hanya berdasarkan perasaan apakah seseorang terlihat baik atau tidak, tetapi juga perlu memahami karakter dan perilakunya,” ujar Deva. Deva, Ketua IPPNU Desa Purwosekar, saat menyampaikan tanggapannya usai mengikuti sosialisasi dampak pernikahan dini dan pergaulan bebas (foto:wahyu) Bagi Deva, pembahasan seputar batasan pergaulan serta bahaya pernikahan dini menjadi bekal penting untuk masa depan. Sebagai pimpinan organisasi pemuda, ia berkomitmen untuk membagikan pemahaman ini kepada anggota IPPNU lainnya melalui ruang diskusi santai dan sesi berbagi ide secara bertahap. “Sebagai ketua, saya tidak ingin informasi yang didapat dari kegiatan ini berhenti pada diri saya sendiri. Ke depannya, saya ingin membagikan informasi ini kepada teman-teman dan anggota IPPNU. Mungkin tidak harus dalam bentuk sosialisasi formal, tetapi bisa melalui sesi ngobrol, sharing, atau diskusi bersama teman-teman,” tambah Deva. Menghubungkan Isu Pernikahan Dini dengan Program Stunting Nasional Isu pergaulan bebas dan penundaan usia pernikahan pada remaja nyatanya beririsan langsung dengan agenda besar pembangunan kesehatan. Perangkat Desa Purwosekar, Ananta Fury Trisandy, menegaskan bahwa sosialisasi mengenai hal ini bukan sekadar agenda rutin desa, melainkan langkah krusial dalam pencegahan masalah kesehatan masyarakat mendasar. “Bukan penting lagi, Mbak. Isu ini merupakan bagian dari program nasional pemerintah, terutama dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kesehatan anak, khususnya balita,” jelas Ananta. Ananta Fury Trisandy Perangkat Desa Purwosekar saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan sosialisasi dampak pernikahan dini dan pergaulan bebas (foto: wahyu) Pernikahan pada usia yang terlalu muda kerap membawa risiko kesehatan reproduksi dan ketidaksiapan pola pengasuhan, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan kasus gizi buruk pada anak. Oleh karena itu, pencegahan pernikahan di bawah umur dipandang sebagai strategi penting dari hulu untuk menekan angka stunting di tingkat desa. “Harapannya yang pertama adalah angka stunting semakin lama semakin menurun. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pernikahan dini karena berkaitan dengan kesehatan dan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dicegah dalam upaya penanganan stunting,” tutur Ananta. Sinergi Komunitas untuk Keberlanjutan Masa Depan Generasi Muda Dr. Mimah, M.Pd. saat foto bersama tim KKN dan peserta usai sosialisasi di Balai Desa Purwosekar (foto: wahyu) Pelibatan Karang Taruna, IPNU, dan IPPNU oleh tim KKN Desa Purwosekar membuktikan bahwa peran pemuda sangat vital sebagai agen perubahan bagi sesamanya. Melalui wadah organisasi lokal, pesan-pesan edukasi sosial dapat tersampaikan lebih efektif dan alami tanpa terkesan menggurui. Melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, perangkat desa, dan organisasi pemuda ini, generasi muda Purwosekar kini memiliki bekal pemahaman yang lebih kuat. Kesadaran untuk saling menjaga pergaulan dan merencanakan masa depan dengan matang menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan desa yang lebih sehat dan berdaya. Samudra Desa Purwosekaredukasi remajaIPNUIPPNUKarang Tarunakesehatan reproduksiKKN 2026pencegahan stuntingpergaulan bebaspernikahan dini