Menelusuri Jejak Air: Mahasiswa KKN Unikama Abadikan Perjalanan Satu Dekade Pipanisasi Desa Gunungsari dalam Sebuah Peta Redaksi Biasmedia, September 1, 2026September 1, 2026 Di sebuah ruangan sederhana di balai desa, Jumat sore itu (28/8/2026), suasana haru dan bangga terasa menyatu. Bapak Rukadi, Kepala Desa Gunungsari, dengan hati-hati membentangkan selembar peta di atas meja. Matanya menyusuri garis-garis berwarna yang meliuk-liuk, menandai setiap sudut desa yang kini telah teraliri air bersih. Di sebelahnya, sekelompok mahasiswa dengan atribut KKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) tersenyum lega. Setelah berminggu-minggu kerja keras turun ke lapangan, mewawancarai pengelola, dan menelusuri setiap meter jaringan pipa, akhirnya Peta Pipanisasi Desa Gunungsari resmi mereka serahkan. “Ini bukan sekadar peta,” kata Bapak Rukadi lirih, jarinya menunjuk pada salah satu titik di kawasan perbatasan desa. “Di sinilah semuanya bermula. Dari mata air kecil yang dulu hanya kami bicarakan dalam musyawarah, kini telah menjadi aliran yang menghidupi lebih dari 600 keluarga.” Peta yang terhampar di hadapannya itu adalah mahakarya kecil dari sebuah program kerja mahasiswa KKN Unikama. Namun di balik garis-garis dan simbol-simbol tersebut, tersimpan sebuah narasi besar tentang perjuangan hampir satu dekade masyarakat Desa Gunungsari dalam mewujudkan impian memiliki air bersih yang terjangkau—sebuah perjalanan yang dimulai dari keresahan warga akan mahalnya layanan PDAM, hingga kini menjadi sistem pengelolaan air mandiri yang dikelola oleh HIPAM dan BUMDes. Dari Musyawarah di 2016 hingga Aliran yang Mengalir ke Ratusan Rumah Cerita ini berawal pada 2016. Dalam sebuah musyawarah desa yang dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat, muncul satu suara yang kemudian menggema: “Mengapa kita harus bergantung pada air PDAM yang mahal, padahal kita punya mata air sendiri?” Mata air itu terletak di kawasan perbatasan desa, selama ini hanya mengalir begitu saja tanpa dikelola maksimal. Analisis awal menunjukkan bahwa sumber itu memiliki debit sekitar 15 liter per detik. Angka yang tidak besar, namun cukup untuk memulai sesuatu yang berarti. Pemerintah desa pun bergerak. Mereka tidak serta-merta terburu-buru membangun. Sebelum mencangkul tanah pertama, para perangkat desa pergi belajar ke desa-desa tetangga yang telah lebih dulu mengelola sistem serupa. Studi banding menjadi bekal penting agar langkah yang diambil tidak salah arah. Tahun 2017 menjadi tahun eksekusi. Dengan menggunakan Dana Desa, pembangunan fisik dimulai. Tandon bawah dan tandon atas dibangun di titik-titik strategis. Jaringan pipa sepanjang 300 meter mulai dipasang—masih sangat pendek, namun menjadi fondasi dari segala yang akan menyusul. “Kami memulai dari hal yang kecil, tapi justru dari situlah kami yakin,” kenang Bapak Rukadi, mengenang masa-masa awal yang penuh keterbatasan. Jaringan Merambat, Pelanggan Melonjak Tahun demi tahun berlalu, jaringan pipa itu seperti akar pohon yang merambat mencari tanah subur. Bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui program Cipta Karya datang menjadi angin segar. Pipa-pipa baru mulai menjangkau Balai Desa, kemudian terus diperpanjang hingga kawasan Jalan Jeruk. Cakupan distribusi semakin meluas, dan desa-desa di sekitarnya mulai melirik sistem yang dibangun oleh Desa Gunungsari. Pada 2019, jumlah pelanggan HIPAM tercatat 123 kepala keluarga. Angka yang masih terbilang kecil, tetapi pertumbuhannya tidak pernah berhenti. Kebutuhan warga akan air bersih yang stabil dan murah mendorong semakin banyak keluarga untuk mendaftar. Kini, di tahun 2026, lebih dari 600 pelanggan menikmati aliran air dari sistem yang sama. Namun pertumbuhan pelanggan yang pesat membawa tantangan baru. Kapasitas sumber air awal mulai terasa terbatas. Pemerintah desa tidak tinggal diam. Pada 2022 hingga 2023, mereka akhirnya melakukan pengeboran sumber air baru. Hasilnya menggembirakan: debit mencapai 17 liter per detik, dan air yang mengalir ke tandon utama stabil di kisaran 15 liter per detik. Pasokan air pun mampu menjangkau wilayah RW 1 hingga RW 5—nyaris seluruh pelosok desa. Beralih ke BUMDes, Administrasi pun Melompat ke Era Digital Di balik gemerlap perluasan jaringan, ada perubahan fundamental yang terjadi di ruang-ruang administrasi desa. Pada awalnya, pengelolaan sistem air bersih ini berada di tangan pemerintah desa. Namun seiring waktu, mereka sadar bahwa agar manfaatnya lebih terasa dan pengelolaannya lebih profesional, tugas tersebut perlu dialihkan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Langkah itu terbukti tepat. BUMDes membawa nafas baru dalam pengelolaan. Salah satu perubahan yang paling terasa adalah digitalisasi administrasi. Jika dulu warga harus mencatat manual setiap pembayaran, kini segalanya terbantu dengan aplikasi. Petugas dan warga dapat memantau tagihan dan pemakaian air melalui meter air yang terintegrasi. Kemudahan ini meningkatkan transparansi dan juga kepatuhan warga dalam membayar. “Kami ingin sistem ini tidak hanya bertahan, tetapi juga memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat secara luas,” jelas Bapak Rukadi. Air Aman, Peta Hadir untuk Mengabadikan Perjalanan Kualitas air tidak pernah diabaikan. Pemerintah desa secara berkala melakukan uji laboratorium untuk memastikan bahwa apa yang diminum oleh warganya benar-benar aman. Pada 2025, hasil uji terbaru keluar: air yang dikelola HIPAM dinyatakan layak konsumsi. Kabar ini menjadi penegas bahwa apa yang telah dibangun selama hampir satu dekade tidak hanya bermanfaat, tetapi juga aman bagi kesehatan masyarakat. Di tengah dinamika pengelolaan yang terus berkembang, muncullah pertanyaan besar: bagaimana semua perjalanan ini bisa didokumentasikan dengan baik? Bagaimana masyarakat dan generasi mendatang bisa membaca jejak air yang telah mengaliri desa mereka? Pertanyaan itulah yang kemudian dijawab oleh mahasiswa KKN Unikama. Selama kurang lebih satu bulan, mereka menyusuri setiap sudut desa, berbicara dengan pengelola HIPAM dan BUMDes, mengukur jalur pipa, dan mencatat setiap titik penting. Hasilnya bukan hanya sebuah peta teknis, tetapi sebuah narasi visual tentang perjalanan air dari mata air di perbatasan hingga ke keran rumah-rumah warga. Warga bersama mahasiswa KKN meninjau lokasi pipa dan tandon air desa (doc. KKN Gunungsari) “Peta Ini adalah Napak Tilas Perjuangan Kami” Sore itu, setelah peta resmi diserahkan, suasana di balai desa berubah menjadi perbincangan hangat. Mahasiswa KKN bergantian menjelaskan simbol-simbol di peta kepada para perangkat desa dan pengelola BUMDes. Bapak Rukadi tidak henti-hentinya mengamati peta tersebut dengan penuh kebanggaan. “Peta ini adalah napak tilas perjuangan kami selama hampir sepuluh tahun,” ujar Bapak Rukadi. “Kami memulai dengan 300 meter pipa, dan sekarang telah mengalir ke lebih dari 600 rumah. Ini bukan hanya tentang pipa dan air, ini tentang kerja sama, tentang kepercayaan, dan tentang cinta kami kepada desa ini.” Ia menambahkan, “Saya sangat mengapresiasi kerja keras adik-adik mahasiswa KKN Unikama. Mereka datang, terjun langsung, dan berhasil menyusun dokumentasi yang sangat berarti bagi kami. Dengan peta ini, kami tidak hanya memiliki panduan teknis, tetapi juga memiliki cerita visual yang bisa kami tunjukkan kepada anak cucu kami. Mereka akan tahu bahwa air yang mereka minum hari ini adalah hasil perjuangan panjang dari musyawarah 2016.” Bapak Rukadi berharap peta tersebut tidak berakhir sebagai lembaran yang tersimpan rapi di lemari. Ia berharap peta itu hidup dan digunakan untuk perencanaan ke depan. “Kami bisa melihat titik-titik mana yang masih perlu penguatan, ke mana jaringan harus dikembangkan selanjutnya. Peta ini adalah modal bagi masa depan,” tegasnya. Lebih dari Sekadar Tugas dan Pengabdian Bagi para mahasiswa KKN Unikama, program ini juga telah memberi pelajaran yang tak ternilai. Mereka tidak hanya belajar tentang teknis pemetaan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas bekerja sama untuk mewujudkan impian bersama. Mereka menyaksikan langsung bahwa pembangunan bukan hanya tentang beton dan pipa, melainkan tentang bagaimana menggerakkan orang, membangun kepercayaan, dan memelihara harapan. Salah satu mahasiswa mengungkapkan, “Kami pikir tugas ini hanya akan menghasilkan peta. Ternyata kami juga membawa pulang cerita tentang perjuangan, tentang kegigihan masyarakat, dan tentang bagaimana air bisa menjadi pemersatu.” Mengalir untuk Masa Depan Kisah Desa Gunungsari adalah salah satu dari sekian banyak cerita desa di Indonesia yang berjuang untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun ada sesuatu yang istimewa dari cara mereka mengelola air: kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, BUMDes, dan akademisi. Peta Pipanisasi yang disusun oleh mahasiswa KKN Unikama bukanlah akhir dari perjalanan. itu merupakan sebuah penanda bahwa perjalanan air bersih di desa ini telah berlangsung hampir satu dekade dan akan terus berlanjut. Dengan dokumentasi yang baik, dengan sistem administrasi yang modern, dan dengan kualitas air yang terus dijaga, Desa Gunungsari telah menunjukkan bahwa pengelolaan air bersih yang mandiri dan berkelanjutan bukanlah mimpi. Samudra biasmediafeaturependidikan