Prabusaka UNIKAMA: Wujud Nyata Menjaga Marwah Nusantara Redaksi Biasmedia, February 4, 2026February 4, 2026 Biasmedia – Pentas budaya bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang pembelajaran hidup tentang identitas. Prinsip itu diwujudkan dalam Parade Budaya Nusantara Unikama (Prabusaka) yang digelar di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Rabu (17/12/2025). Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa ini mentransformasikan lapangan kampus menjadi panggung kebinekaan nyata, menampilkan busana dan representasi budaya dari sedikitnya 17 daerah di Indonesia. Dalam perspektif budaya, acara ini berfungsi sebagai medium aktualisasi dan refleksi. Mahasiswa tidak hanya menjadi “pemakai” atau “penampil” budaya, tetapi juga menjadi kurator muda yang memilih, menyajikan, dan menafsirkan kembali simbol-simbol kebudayaan daerah mereka di ruang publik kampus. Proses kreatif ini merupakan bagian dari dinamika budaya itu sendiri, di mana warisan leluhur dihidupi dalam konteks kekinian oleh generasi penerus. Dunia akademik memegang peran krusial sebagai fasilitator dan validator dalam upaya pelestarian ini. Rektor Unikama, Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., menegaskan bahwa peran strategis perguruan tinggi dalam menanamkan cinta tanah air juga diwujudkan melalui aktivitas kultural. “Kegiatan seperti ini membangun karakter dan toleransi. Kampus adalah laboratorium tempat nilai-nilai kebangsaan dan kelestarian budaya diuji, dikonkretkan, dan disebarluaskan,” ujarnya. Pernyataan ini menempatkan Unikama tidak hanya sebagai penyelenggara acara, tetapi sebagai ekosistem yang sengaja dirancang untuk memberi nilai akademik pada setiap praktik budaya. Penampilan Mahasiswa Membawakan Tarian Khas Sumbawa Sumbangsih konkret Unikama terhadap gelaran ini terlihat pada kemampuannya menyediakan wadah yang mengangkat aktivitas budaya dari sekadar ekspresi sukarela menjadi bagian dari konstruksi pengetahuan. Keterlibatan 15 Organisasi Daerah (Orda) dengan total sekitar 300 mahasiswa peserta menunjukkan bahwa kampus berhasil menciptakan ruang yang menarik dan legitimate bagi ekspresi kedaerahan. Partisipasi massif ini adalah bentuk nyata dari agency mahasiswa yang difasilitasi kampus untuk menjaga kearifan budaya. Dukungan dari pemerintah daerah, seperti Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota Malang, mengukuhkan sinergi antara dunia akademik dengan agenda besar pelestarian budaya. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa praktik budaya di kampus tidak terisolasi, tetapi terhubung dengan upaya yang lebih luas di tingkat daerah. Sebagai agenda tahunan, Prabusaka Unikama telah menancapkan perannya sebagai ritus akademik-budaya. Peran mahasiswa dan dunia akademik di dalamnya jelas: menjadi penjaga aktif yang tidak hanya mengarsip, tetapi juga menghidupkan. Dengan demikian, Unikama memberikan kontribusi nyata dalam merawat mozaik Nusantara, membuktikan bahwa kampus adalah benteng strategis tempat keberagaman Indonesia terus dilatih, dirayakan, dan diwariskan. Samudra akademikbiasmediabudayacultureUnikama