Rotan yang Mendamaikan: Di Balik Bilur, Masyarakat Tengger Menemukan Harmoni Redaksi Biasmedia, August 8, 2026August 8, 2026 photo by Bayu Novanta Ritual Bukan untuk Menang, tapi untuk MelepasDi tengah gemuruh sorak penonton yang membelah dinginnya angin pegunungan, sebatang rotan melesat dari atas kepala, membentuk lengkungan sempurna, lalu mendarat dengan tegas di punggung telanjang seorang pemuda. Bukan teriakan kesakitan yang keluar, melainkan hening yang sarat makna. Di hadapannya, lawan yang sama menunggu giliran untuk menerima atau membalas—bukan dengan kebencian, tapi dengan kepatuhan pada aturan leluhur.Pemandangan ini adalah jantung dari tradisi Ujung, ritual penutup Upacara Karo yang digelar masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas, Malang. Bagi mata awam, ini seperti duel adu ketahanan fisik. Namun bagi warga Tengger, ini adalah cermin sosial yang paling jujur: bahwa luka di punggung lebih ringan dari luka di hati, dan sakit sementara lebih baik daripada dendam berkepanjangan. Menggali Filosofi di Balik Sabetan RotanMujianto, Kepala Desa Ngadas, menyebut tradisi ini sebagai “musyawarah dalam bentuk fisik”—sebuah paradox yang justru menjadi kebijaksanaan. “Kami tidak mengajari anak-anak untuk berkelahi. Kami mengajari mereka bahwa kekerasan hanya menghasilkan luka, bukan solusi. Dalam Ujung, setiap orang bergantian merasakan sakit dan memberi sakit. Di situlah empati lahir,” ujarnya.Rotan tidak boleh diayunkan sembarangan. Aturan sakral mengikat: pukulan hanya sah dari atas ke bawah, tidak pernah menyamping atau menyerang dari bawah. Ini bukan sekadar teknis, tapi pesan moral bahwa serangan yang terhormat adalah yang terbuka dan jujur. Tidak ada tikaman dari balik punggung, tidak ada kecurangan—seperti halnya menyelesaikan masalah sebaiknya dilakukan dengan terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi. Dari Bilur Menjadi Jabat Tangan: Klimaks yang Tak TerdugaYang paling menakjubkan bukanlah deru rotan, melainkan momen setelahnya. Ketika ritual usai, para peserta yang beberapa menit lalu saling mencambuk justru berdiri berhadap-hadapan, lalu berjabat erat. Tawa pecah di antara mereka. Bahkan, sebagian saling menepuk punggung—tepat di bekas bilur yang masih merah—sebagai isyarat bahwa luka itu sudah menjadi bagian dari cerita bersama, bukan menjadi alasan untuk bermusuhan. “Tidak ada yang pulang dengan dendam. Tidak ada yang menganggap dirinya pemenang, karena di sini tidak ada yang kalah,” tambah Mujianto. “Yang ada hanyalah pengingat bahwa semua masalah akan selesai jika kita mau duduk bersama, bukan jika kita saling menghantam.” Ujung: Penutup yang Justru Membuka Kesadaran BaruTradisi Ujung adalah babak final dari rangkaian panjang Upacara Karo—sebuah ritual tahunan yang diisi dengan doa, penghormatan pada leluhur, dan makan bersama. Sebelumnya, warga menjalani prosesi Sadranan di pemakaman desa, tempat mereka berbisik pada arwah leluhur dan merenungkan bahwa semua manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah yang sama.Ujung hadir sebagai penegas: jika kita semua akan berakhir di tempat yang sama, lalu apa gunanya menyimpan permusuhan?. Bagi masyarakat Tengger, bilur akibat sabetan rotan akan mengering dan mengelupas dalam hitungan hari. Namun jejak maknanya—bahwa keberanian sejati adalah mengakhiri konflik dengan tangan terbuka, bukan dengan kepalan—akan terus diwariskan turun-temurun, dari orang tua kepada anak, dari bilur ke bilur, dari damai ke damai. Mungkin kita yang di luar sana terbiasa melihat konflik sebagai ajang kemenangan dan kekalahan. Tapi di kaki Gunung Bromo, di Desa Ngadas itu, masyarakat Tengger mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: luka bisa sembuh, tetapi keharmonisan harus terus dijaga. Daur adatbiasmediabromobudayatengger