Sekolah Alam BSTC: Konservasi Penyu Menjadi Laboratorium Hidup Redaksi Biasmedia, July 25, 2026 Malang, 23 Juli 2026 — Di balik gemuruh ombak Pantai Bajulmati yang memecah hening pagi, ada sebuah ruang belajar tanpa dinding yang terus tumbuh dan bernapas. Namanya Sekolah Alam Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC). Di tengah hiruk-pikuk perayaan Hari Anak Nasional yang kerap diisi dengan kegiatan seremonial di dalam ruangan, lembaga konservasi yang berdiri sejak 2018 ini memilih pendekatan berbeda: mengajak generasi muda pulang ke alam melalui pengalaman langsung menyentuh siklus kehidupan. Rabu (23/7/2026), puluhan siswa SDN 2 Tambakasri duduk bersama sama, menyimak dengan saksama tim BSTC yang membuka “Kelas Alam” sebelum pelepasan 100 tukik jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Bukan sekedar aksi simbolis, mereka diajak memahami bahwa melepas tukik ke laut adalah bagian dari rantai besar kehidupan yang menghubungkan daratan, pesisir, dan lautan. Penanaman mangrove yang dilakukan bersamaan mengajarkan bahwa menjaga penyu berarti menjaga rumahnya—ekosistem pesisir yang rentan terhadap abrasi dan perubahan iklim . Filosofi Konservasi yang Berakar dari Bumi Bajulmati Bagi Sutari, Ketua BSTC, konservasi bukan sekadar menyelamatkan satwa dilindungi. Ini adalah upaya menyelamatkan masyarakat pesisir itu sendiri . “Konservasi itu intinya menyelamatkan, menyelamatkan ekosistem laut berarti juga menyelamatkan masyarakat pesisir. Terumbu karang yang sehat mampu meredam gelombang, cemara udang di sini berfungsi sebagai filter alami air asin, dan mangrove menjaga keseimbangan lingkungan. Semua itu diajarkan langsung di alam terbuka, bukan di dalam gedung tertutup,” ujarnya . Pemilihan Pantai Bajulmati sebagai lokasi konservasi bukan tanpa alasan. Kawasan ini menjadi habitat penyu sekaligus memiliki ekosistem mangrove yang saling berkaitan. Dari tujuh spesies penyu di dunia, lima di antaranya dapat ditemukan di perairan pantai selatan tepatnya Bajulmati Kabupaten Malang, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu lokasi strategis bagi konservasi penyu di Indonesia atau bahkan Dunia. Sutari Ketua BSTC saat sedang memberikan materi mengenai konservasi penyu (foto: rmdhn) Sekolah Alam: Ruang Belajar Tanpa Dinding Sejak aktif penuh pada 2019, Sekolah Alam BSTC memfokuskan langkah awalnya pada anak-anak pesisir. Alasannya sederhana namun mendalam: anak-anak adalah agen perubahan paling efektif. Ketika kesadaran tumbuh sejak dini, pesan itu akan sampai ke rumah, ke orang tua, bahkan ke komunitas yang lebih luas. Dwi Tientus, Humas BSTC, menjelaskan bahwa materi yang diajarkan di Sekolah Alam tidak sekadar teori. Anak-anak belajar membedakan penyu, kura-kura, dan labi-labi; memahami mengapa penyu dilindungi undang-undang; hingga bagaimana vegetasi pantai menjadi benteng alami bagi kehidupan manusia . “Kami hidup berdampingan dengan alam. Karena itu, menjaga kelestariannya merupakan tanggung jawab bersama,” tegasnya . Dwi Tientus saat memberikan pengarahan kepada para peserta yang hadir (foto: rmdhn) Hasil dari perjalanan panjang ini terasa nyata. Sejak 2019, BSTC mencatat penyelamatan penyu dalam jumlah yang sangat besar—rata-rata mencapai sekitar 10.000 penyu per tahun. Kontribusi ini menjadi bagian penting dari upaya konservasi nasional, meski tak selalu bisa diukur dengan angka semata. Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan Kegiatan pelepasan tukik dan penanaman mangrove yang digelar berkolaborasi dengan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) menjadi bukti bahwa Sekolah Alam BSTC terbuka untuk siapa pun—mahasiswa, warga kota, hingga pegawai negeri . Tidak ada batas usia. Sebab, menurut Sutari, masih banyak orang dewasa yang belum memahami perbedaan penyu dan kura-kura, apalagi perannya bagi ekosistem. Di alam, semua setara sebagai pembelajar. Rektor UNIKAMA, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, menekankan bahwa keterlibatan perguruan tinggi menjadi energi baru dalam memperluas edukasi konservasi. “Kami tidak ingin anak-anak hanya mendengar tentang kerusakan alam, tetapi mereka harus merasakan langsung bagaimana menjaga dan memulihkannya. Ketika seorang anak melepas tukik ke laut, ia belajar tentang harapan dan tanggung jawab,” ujarnya. BSTC juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Perhutani KPH Malang dan Yayasan Adi Wana Lestari, untuk menciptakan ekosistem konservasi yang inklusif dan berkelanjutan . Sinergi antara pelepasan tukik dan penanaman mangrove menjadikan setiap kegiatan langkah holistik dalam pelestarian pesisir . Tantangan dan Harapan Perjalanan membangun Sekolah Alam tentu tidak tanpa tantangan. Keseimbangan antara aspek sosial, psikologis, dan ekonomi menjadi ujian tersendiri, terlebih karena BSTC adalah yayasan non-profit. Para pengurusnya kerap harus meninggalkan urusan bisnis pribadi demi terjun langsung ke lapangan. Namun bagi mereka, menyelamatkan alam adalah tanggung jawab bersama, bukan urusan individu atau kelompok tertentu. “Kalau kita belajar di alam, kita sedang menyelamatkan oksigen,” ujar Sutari menutup perbincangan. Dari menjaga keseimbangan pesisir mulai dari konservasi penyu hingga penanaman mangrove, semua kembali pada satu tujuan: menjaga kehidupan agar tetap berlanjut. Bagi masyarakat yang ingin bergabung dan belajar langsung di Sekolah Alam BSTC, pendaftaran dan alur kunjungan dapat diakses melalui Instagram @bstcmalang. Di sanalah perjalanan kecil untuk perubahan besar bisa dimulai. biasmedia.id Samudra bajulmatibiasmediaconservationkonservasimangrovepenyu