Wartruth 2026: Tampil Makin Beringas dengan Formasi Barunya Redaksi Biasmedia, September 4, 2026September 4, 2026 Malang, Biasmedia – Band metal asal Kota Malang yang satu ini selalu memberikan kejutan. Beberapa waktu lalu mereka berkesempatan tampil diatas panggung Festival Mbois 11 yang bertajuk “Malang Menyala”. Mereka menyuguhkan penampilan yang memukau, walaupun memang penampilannya pada saat itu tidak lepas dari bayang – bayang kontroversi yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Tepat 2 hari sebelum gelaran tersebut berlangsung, mural ikonik Kota Malang “Malang The Glory Land” yang sudah 10 tahun menghiasi dinding jl. Arif Rahman Hakim itu dihapus dan ditimpa oleh cat promosi yang bertajuk “Malang Menyala Bersama” oleh panitia Festival Mbois. Tentu saja tindakan sepihak yang dilakukan oleh Malang Creative Fusion itu memicu protes luas, hingga banyak band lokal yang akhirnya memutuskan untuk mundur dari Festival Mbois 11 tersebut. Ditengah riuh polemik tersebut, Wartruth memutuskan untuk tetap maju dan naik keatas panggung. Bukan untuk membela dan bukan juga menolak, melainkan untuk melakukan apa yang sudah seharusnya mereka lakukan. 2018 – 2026 : Jejak Wartruth di Skena Bawah Tanah Malang Wartruth terbentuk pada tahun 2018, masa ketika dimana musik – musik bawah tanah Kota Malang banyak bermunculan wajah baru yang berani dan lantang mengangkat isu – isu sosial secara gamblang. Sejak awal, mereka memang berfokus pada tema – tema keresahan eksistensial, ketidak adilan, dan kritik terhadap kondisi sosial-politik yang memang selalu menjadi bahan bakar utama mereka. Secara musikalitas mereka tidak banyak perubahan dengan tahun – tahun sebelumnya, tetap bertahan dan konsisten dengan musik metal yang dibumbui sedikit groove yang cukup berat dan agresif. Lagu – lagu seperti Tears All of Suffering dan 309 seakan menjadi lagu wajib yang selalu dinantikan oleh penggemar setia mereka. Ada yang berbeda pada penampilan Wartruth dipanggung Festival Mbois saat itu, mereka tidak lagi bermain dengan 3 personil “lawas” mereka (Adhe – Vokal, Amy – Gitar, Helly – Bass). Kita ketahui sebelumnya bahwa ketiga nama tersebut sudah melekat erat dengan identitas Wartruth pada periode emas pertama mereka, dengan mereka lah Wartruth berhasil merilis sejumlah single independen yang kemudian berhasil membawa Wartruth makin dikenal dikalangan skena bawah tanah Kota Malang. Namun pada akhirnya kenyataan berbicara lain, dinamika dalam band dan tanggung jawab dalam kehidupan nyatanya tak selalu linier. Sehingga dalam rentang 2025 – 2026 ketiganya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan bersama Wartruth. Formasi Baru 2026 : Energi Baru dengan Atmosfer yang Sama Pada pertengahan 2026, Wartruth resmi memperkenalkan formasi keduanya melalui unggahan media sosial mereka, deretan wajah baru itu antara lain Vegha pada vokal, Gotawa pada gitar dan Tatak pada bass. Dalam formasi Wartruth ketiganya memang baru, akan tetapi mereka – mereka ini sudah cukup lama juga malang melintang di skena musik bawah tanah Kota Malang. Vegha sebagai vokal dikenal dengan kemampuannya dalam mengolah teknik vokal yang cukup brutal dan penguasaan panggung yang eksplosif. Kemudian Gotawa pada gitar juga dikenal dengan penampilan yang tenang diatas panggung namun memiliki permainan teknis pada gitar yang cukup tajam. Tatak pada bass juga memiliki naluri ritmis yang kuat, sehingga sangat tepat untuk mengisi posisi bass yang selama ini menjadi tulang punggung groove pada musik Wartruth. Meski demikian, perubahan formasi personil dalam Wartruth tidak serta merta mengurangi performa mereka diatas panggung. kehadiran wajah – wajah baru tersebut justru membawa angin segar untuk formula baru bagi musikalitas Wartruth kedepannya nanti. Mereka membuktikan keseriusan dan kekompakannya pada saat perform di Festival Mbois 11 di Stadion Gajayana 23 Agustus 2026 bulan lalu. Sejak detik pertama pekikan gitar itu sudah membuat para penonton terperanga, distorsi tebal yang menjadi ciri khas mereka itu seketika mengerang menyambut lagu pembuka mereka. Tidak sekedar membawakan musik, secara tidak langsung mereka telah menghidupkan kembali energi beru yang mereka suguhkan kepada para penonton yang hadir hari itu. Meskipun baru beberapa bulan mereka bersama, Vegha, Gotawa, dan Tatak sudah memperlihatkan sinkronisasi yang luar biasa diatas panggung, ritme dan pergerakan yang mereka luapkan diatas panggung sangat natural dan membangun dinamika panggung yang terasa sangat organik. Dimas salah satu gitaris dari Wartruth menyampaikan bahwa memang apapun itu dalam bermusik pasti tidak ada yang berjalan mulus, pasti akan ada dinamika didalamnya yang tidak juga bisa dijadikan alasan untuk kita berhenti dalam berkreativitas. “Bagi saya, personil dalam sebuah band bisa kapan saja datang dan pergi. itu merupakan hal lumrah ya di dunia musik. Tapi sebenernya yang paling penting itu bagaimana cara kita membangun chemistry didalem. bukan lagi soal siapa yang paling jago atau siapa yang paling mbois. Soale gini, diatas panggung itu kita bukan lagi empat atau lima orang individu, tapi kita ini satu (Wartruth). Sejak pertama bertemu dengan Vegha, Gotawa, Tatak frekuensi yang sama langsung muncul begitu saja dihari pertama kami latihan.” ujar Dimas. Satu hal yang penting untuk dicatat: perubahan personel dalam tubuh Wartruth sama sekali tidak mengubah DNA musikal Wartruth. Genre metal yang mereka bawakan dengan groove identik mereka masih akan menjadi fondasi utama. Lirik-lirik mereka pun tetap sarat dengan kritik – kritik sosial, kegelisahan mereka terhadap dunia yang dirasa kian kehilangan arah, itu semua merupakan suara kemarahan yang jujur dari setiap penampilan Wartruth. Spektrum biasmediametalmusikunderground