Anthrax 2026: Cursum Perficio Layak Disebut “Among The Living” Era Baru Redaksi Biasmedia, September 6, 2026September 6, 2026 Setelah penantian selama satu dekade, raksasa thrash metal asal New York, Anthrax, akhirnya mengumumkan kepulangan mereka dengan album studio ke-12 berjudul Cursum Perficio. Rencananya, album ini akan dirilis pada 18 September mendatang melalui Nuclear Blast Records dan Megaforce Records Amerika Utara. Album ini menjadi penerus For All Kings (2016) yang berhasil debut di 10 besar Billboard 200. Frasa Latin Cursum Perficio—yang berarti “Perjalananku telah berakhir” atau “Aku menyelesaikan perjalananku”—dianggap sangat tepat oleh para personel band untuk menggambarkan proses kreatif yang panjang dan penuh lika-liku ini. Bagi para penggemar yang telah menanti sejak 2016, ini bukan sekadar album baru, melainkan sebuah pernyataan bahwa perjalanan Anthrax di era baru ini telah mencapai puncaknya. Proses Kreatif yang Terhambat Pandemi dan Lahir di Studio Dave Grohl Perjalanan menuju Cursum Perficio bukanlah tanpa hambatan. Gitaris Scott Ian mengungkapkan bahwa album ini seharusnya mulai digarap pada tahun 2020, namun pandemi global mengubah segalanya. “Alam semesta memiliki rencana lain bagi kita semua,” ujar Ian. Setelah pandemi mereda, energi kebersamaan yang sempat hilang justru menjadi bahan bakar utama album ini. “Rasanya begitu menggembirakan, seolah-olah kami terlahir kembali. Semua energi dan emosi itu tertuang dalam musik,” tambahnya. Proses rekaman serius dimulai pada tahun 2022 dengan bermarkas di Studio 606 milik Dave Grohl di Los Angeles. Mereka bekerja sama dengan produser Jay Ruston, yang sebelumnya terlibat dalam Worship Music dan For All Kings. Hasilnya adalah album yang digambarkan sama marah, agresif, dan hidupnya seperti karya-karya paling terkenal mereka. “It’s For The Kids” – Surat Cinta untuk Para Penggemar Thrash Single pertama yang dirilis, ‘It’s For The Kids’, menjadi pembuka jalan bagi dampak besar album ini. Lagu ini adalah contoh sempurna dari ciri khas Anthrax: riff tajam bagaikan gergaji mesin, permainan drum eksplosif, dan hook yang menggema dan memicu headbanging. Scott Ian menyebut lagu ini sebagai “surat cinta yang tulus untuk para penggemar” . “Album ini membutuhkan lagu thrash berdurasi empat menit yang mengingatkan pada era awal kami. Lagu ini mewakili semua bagian terbaik ANTHRAX dalam kemasan empat menit yang penuh amarah,” jelas Ian. Drummer Charlie Benante menambahkan bahwa lagu ini memiliki elemen tarik-menarik antara drum cepat dan riff gitar yang dimainkan di tempo lebih lambat, menciptakan ketegangan khas Anthrax. “Aku benar-benar merasa lagu ini adalah hadiah bagi para penggemar ANTHRAX yang telah setia menemani kami selama bertahun-tahun,” kata Benante. Anthrax Live at The Dome at Oakdale in Wallingford CT – (doc.artistwaves) Sebuah Puncak dari 45 Tahun Perjalanan Musik Para personel band sepakat bahwa Cursum Perficio adalah puncak dari segala hal yang telah mereka pelajari selama berkarir. Charlie Benante menyoroti adanya perkembangan yang sangat pesat antara album Worship Music (2011) dan album baru ini. Ia terinspirasi oleh tulisan Cursum Perficio di sebuah ubin di rumah terakhir Marilyn Monroe saat menonton sebuah dokumenter. “Kami tidak mengatakan ini adalah album terakhir kami, tapi perjalanan kami telah berakhir. Saya yakin kami telah menyelesaikan tugas ini,” tegas Benante. Scott Ian bahkan berani membandingkan album ini dengan karya klasik mereka, Among The Living. “Kami membutuhkan Worship Music dan For All Kings agar bisa menulis CURSUM PERFICIO. Saya sangat membandingkan album ini dengan Among The Living,” ujarnya. Pernyataan ini tentu menjadi ukuran ambisi tinggi yang mereka usung. Frank Bello, sang bassis, menegaskan bahwa mereka telah memberikan segalanya. “Kami benar-benar tahu siapa kami sebagai ANTHRAX, apa yang memotivasi kami, dan apa yang harus kami lakukan. Mulai saat ini, kami akan melaju dengan kecepatan penuh setiap menitnya,” pungkas Bello dengan penuh semangat. Spektrum anthraxbiasmediamusikunderground