Skip to content
biasmedia
biasmedia
  • DAUR
  • HAWA
  • SAMUDRA
  • SPEKTRUM
  • BIRD BULLETIN
biasmedia
biasmedia

Ensiklopedia diatas Batu: Taksonomi Sebuah Peradaban Musik

Redaksi Biasmedia, February 22, 2026February 22, 2026

Dengan memperhatikan tiap panel satu per satu, terungkap kalau leluhur kita sudah akrab pada hampir seluruh jenis instrumen musik seperti saat ini. Alih-alih mengabaikannya, para ahli dan peneliti justru membagi alat musik di ukiran Borobudur berdasarkan empat kelompok organologi masa kini.

1. Idiofon Bunyi dari Batu dan Logam

Suara-suara itu lahir langsung dari batu, kayu, atau logam ketika dipukul maupun digetarkan. Gambar di dinding tua memperlihatkan kentungan, alat untuk menyampaikan pesan sekaligus mengatur irama. Tidak jauh darinya tergantung kerincingan – benda kecil seperti simbal mungil – yang berdentang kalau digerakkan. Getarannya ikut membentuk suasana dalam setiap pentas yang tampil.

Di tengah kerumunan gamelan, sosok perempuan tampak tenang meski sorot matanya tajam. Kain panjang membungkus tubuhnya, tanpa penutup dada, namun penuh wibawa. Rantai emas melingkar di leher, gelang tebal mengikat lengan sampai siku. Simbal besar bergetar setelah telapak tangannya mendarat keras. Suara dentuman logam menyebar, memecah hening seperti riak air batu dilempar kolam. Wajah-wajah di sekitarnya tak bergeming, tapi udara terasa gemetar.

2. Membraphone Detak Jantung Orkestra

Gendang muncul dalam banyak rupa di ukiran Borobudur. Suara mereka lahir dari kulit yang direntangkan. Sebagian ditabuh pakai tangan kosong, sejumlah lain kemungkinan dipukul dengan alat khusus. Tak semua berbentuk sama – ada yang memanjang seperti tabung. Yang bulat pun ditemukan, mirip jenis kentingan.

Terdengar di sana, gendang mengatur langkah musik dengan diam-diam memimpin. Melenceng sedikit saja, alunan pun goyah tak tentu arah.

3. Chordophone Syair dari Dawai dawai

Lewat ukiran di Borobudur, terlihat jelas beberapa orang memetik alat musik. Alat itu termasuk jenis chordophone, yang menggunakan dawai sebagai sumber suara utama. Bentuk tertua gambus tampak hadir, disertai leher memanjang ke atas. Selain itu, kemungkinan juga sudah ada rebab dalam versi awal, dimainkan dengan cara digesek. Setiap gambar memberi petunjuk tentang perkembangan musik masa lalu.

Di antara semua alat musik, yang menonjol justru bentuk harpa lengkung. Pada ukiran batu yang cukup besar tampak seseorang memegang harpa model melengkung itu, lalu di sampingnya ada peniup seruling datar sambil diseling oleh penggebuk kecapi berdawai tiga.

“Instrumen-instrumen ini, bentuknya sangat khas. Tidak mirip dengan alat musik dari India atau Thailand,” tulis laporan PT Taman Wisata Candi Borobudur. “Justru kemiripannya ditemukan pada alat musik suku Dayak di Kalimantan”. Sebuah petunjuk penting yang akan kita buka nanti.

Ternyata, harpa Borobudur mungkin punya sekitar sebelas senar. Penemuan ini datang dari pengamatan terhadap patung kecil Dewi Sarasvati, sang dewi ilmu dan kesenian, yang sedang memetik harpa. Selain itu, ada pula tonjolan sebanyak 11 buah di bagian atas alat musik tersebut, diduga sebagai tempat menambatkan tali nada. Jumlah semacam itu mengisyaratkan bahwa alunan yang bisa dihasilkan jauh lebih rumit dibanding kebanyakan musik saat zaman itu.

4. Aerophone Suara Angin Menjadi Melodi

Terakhir ada aerofon, yaitu instrumen yang suaranya muncul karena udara bergetar. Dari ukiran di Borobudur, tampak macam-macam alat tiup dulu pernah dipakai. Seorang pengiring harpa juga memegang suling datar dalam satu adegan. Selain itu, nampak alat seperti trompet dan sangkha ikut hadir. Sangkha sendiri dibuat dari cangkang laut, menghasilkan nada rendah yang bergema. Bunyi ini biasa terdengar saat upacara bersifat spiritual. Tidak cuma itu, ditemukan pula instrumen tiup tak biasa, bentuknya mencolok, dilengkapi sejumlah batang menonjol mirip alat musik organ purba. Dari situlah muncul kesamaan ciri dengan keledi atau kedire – suling bernada ganda dari komunitas Dayak.

Daur biasmediaborobudurbudayamusiknusantara

Post navigation

Previous post
Next post

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What's Next Event !

The Latests

  • Menjaga Masa Depan Pemuda: Upaya Memutus Rantai Pernikahan Dini Desa Purwosekar
    by Wahyu
    August 18, 2026
    Malam itu, ruang pertemuan Desa Purwosekar tampak riuh oleh diskusi hangat puluhan anak muda. Puluhan...
  • Rayakan Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia dengan Menghias Lokomotif Kertanegara dan Malabar
    by Mr Sembranee
    August 17, 2026
    Malang, 17 Agustus 2026 — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia turut...
  • Mengenal Weton Jawa: Pengertian, Makna Neptu, dan Fungsinya dalam Kehidupan
    by Mr Hecka
    August 15, 2026
    Bagi masyarakat Jawa, tanggal lahir bukan sekadar deretan angka yang menandai hari ulang tahun. Lebih...
  • Tertawa Tanpa Layar: Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional di Halaman Sekolah
    by Wahyu
    August 15, 2026
    Langkah-langkah kecil itu melompat tangkas melintasi ikatan tali karet yang terbentang. Gelak tawa pecah di...
  • Cara Cek Apakah Email dan Password Kita Pernah Bocor di Internet (Cek Langsung di Sini!)
    by Mr Hecka
    August 11, 2026
    Belakangan ini, berita mengenai jutaan data penduduk atau pengguna aplikasi yang bocor dan diretas oleh...

Tetap Terhubung.

Daftarkan email Anda untuk menerima kurasi artikel, liputan pilihan, dan kabar terbaru langsung di kotak masuk Anda setiap bulan.

Mohon periksa kotak masuk atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan.

biasmedia

BiasMedia merupakan media independen yang menghadirkan berita, opini, cerita, dan perspektif mengenai lingkungan, budaya, masyarakat, serta isu-isu yang berdampak bagi kehidupan.

Rubrik

  • DAUR
  • HAWA
  • SAMUDRA
  • SPEKTRUM
  • BIRD BULLETIN

Ikuti Kami

info@biasmedia.id

© 2026 BiasMedia. All Rights Reserved.