Skip to content
biasmedia
biasmedia
  • DAUR
  • HAWA
  • SAMUDRA
  • SPEKTRUM
  • BIRD BULLETIN
biasmedia
biasmedia

Ensiklopedia diatas Batu: Saat Candi Borobudur Berubah Jadi Partitur Raksasa

Redaksi Biasmedia, February 22, 2026February 22, 2026

Layar hitam perlahan turun. Suara orang berlalu terdiam. Kendaraan lenyap dari telinga. Di tengah sunyi itu, kaki bertemu tanah kuno. Candi ini belum bernama Borobudur saat pertama kali berdiri. Dua belas ratus tahun lalu, batu-batu itu baru mulai disusun. Udara waktu itu lebih dingin, mungkin basah. Orang-orang lewat dengan langkah pelan, bukan untuk foto, tapi untuk ibadah. Pagi mulai mengintip lewat celah pepohonan yang rapat di Bukit Menoreh. Tak lama kemudian, sinar matahari perlahan naik, memberi warna kuning tua pada deretan stupa.

Tapi coba pikirkan ini dulu – bukan soal gambaran. Diam sebentar. Apa yang terdengar masuk ke telingamu sekarang?

Angin membawa suara suling bambu perlahan-lahan, nada-nadanya meluncur pelan di antara rimbun daun. Dari arah lain, lute tua ikut bercerita, senarnya dipetik satu demi satu tanpa tergesa. Di tengah-tengahnya, kerincingan menyisip diam-diam, logamnya saling bersentuhan saat tubuh menari mulai bergerak. Gendang tidak sering bicara, tapi ketika datang, dentumannya membuat semua napas sedikit tertahan. Ritmenya kuat, meski ruh keseluruhan tetap tenang, seperti malam yang tahu rahasia semua orang.

Layaknya jejak suara yang mengendap, begitu mungkin suasana hidup di Candi Borobudur tempo dulu. Bukan lenyap, hanya diam – seperti musik tanpa nada yang tertahan waktu. Meski tak terdengar, ia tetap tinggal, melekat kuat pada ukiran batu yang berdiri sepanjang masa. Tersimpan rapi dalam garis relief, siap dibaca ulang bila kita mau menyimak.

Borobudur selama ini dikenali karena bentuknya yang besar, tumpukan batu tinggi, atau gambar cerita dari ajaran Buddha. Meskipun begitu, kalau diamati dengan cermat, tempat itu menyembunyikan sesuatu yang juga penting. Di antara ukiran batunya tersimpan catatan tentang musik – yang jumlahnya paling banyak dan usianya paling tua dibanding koleksi sejenis mana pun.

Kaki Tersembunyi yang Berbisik
Bukan pada batu-batu tinggi yang menjulang diam, bukan juga pada kisah ukiran tentang sang guru sejati. Rahasianya malah berteduh di tempat tak pernah dilirik banyak orang: dasar candi, terbenam dalam tanah dan lapisan waktu.

Di bagian bawah Candi Borobudur, ada deretan ukiran yang lama tertutup batu candi itu sendiri. Disebut Karmawibhangga, istilah dari bahasa Sanskerta untuk hukum sebab akibat. Meski cerita di level atas menggambarkan alam dewa dan pencapaian rohani, lain halnya dengan yang satu ini. Ini bicara soal orang biasa, hidup nyata, aktivitas keseharian. Gambarannya datang langsung dari masyarakat Jawa zaman dahulu, delapan ratus tahun setelah masehi mulai hitungan.

Pada permukaan batu andesit yang membentang hampir dua ribu meter persegi, tangan-tangan pematung Sailendra mengukir gambaran hidup begitu nyata – petani menarik bajak di sawah, nelayan mengangkat jaring dari air, penjual berdiri di tengah pasar, juga kaum ningrat yang makan di ruang istana. Di antara semua keramaian dunia itu, alunan musik ikut bermunculan. Ia tidak datang dari tempat suci yang jauh, tetapi menyusup lewat denyut kecil dalam tiap gerak manusia sehari-hari.

salah satu pahatan yang terdapat dalam tubuh Borobudur

226 Partitur dalam Diam
Di sekitar dasar candi, terdapat 160 panel relief Karmawibhangga – namun ditemukan setidaknya 226 gambar alat musik di antaranya. Angka itu begitu besar. Tidak hanya untuk mempercantik tampilan. Coba bayangkan satu buku tebal berisi 226 halaman, tiap-tiap gambarnya menunjukkan alat musik yang dulu mengalun di Jawa lebih dari seribu tahun silam.

Ternyata, ukiran-ukiran itu ditemukan pada minimal 10 bagian besar – nomornya: 1, 39, 47, 48, 52, 53, 72, 101, 102, hingga 117. Di balik batu, tiap panel seperti adegan yang tak bergerak. Beberapa menyuguhkan tarian musisi keraton dengan permainan cermat dan penuh aturan. Yang lain justru menampilkan pengemar muda di trotoar, lalu lintas riuh sebagai latarnya. Mereka petik alat dari kayu atau bambu, suara keluar tanpa gembar-gembor. Dulu pun mereka sudah ada, main bukan untuk gelar tapi sekadar temani orang lewat. Relief Karmawibhangga menunjukkan ragam pekerjaan dalam bidang musik, demikian isi laporan dari Balai Konservasi Borobudur. Di sana terlihat kelompok musisi keraton, begitu pula dengan mereka yang bermain di jalan – dikenal sebagai pengembara suara. Fakta ini membuka mata: dulu, alunan nada tak hanya untuk kalangan atas. Setiap lapisan punya ruangnya masing-masing, tanpa batas yang kaku membelenggu. Musik mengalir bebas, masuk ke telinga siapa saja, tanpa pandang status.

Daur biasmediaborobudurbudayaSeni

Post navigation

Previous post
Next post

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What's Next Event !

The Latests

  • Cara Cek Apakah Email dan Password Kita Pernah Bocor di Internet (Cek Langsung di Sini!)
    by Mr Hecka
    August 11, 2026
    Belakangan ini, berita mengenai jutaan data penduduk atau pengguna aplikasi yang bocor dan diretas oleh...
  • Awas Manipulasi Transaksi: Saat Bukti Pembayaran Bank dan E-Wallet di Layar HP Tak Lagi Bisa Dipercaya
    by Mr Hecka
    August 9, 2026
    Bayangkan suasana kedai kopi yang ramai di sekitar kampus di Malang pada Jumat malam. Antrean...
  • Berkas Sejarah Hampir Berakhir di Tumpukan Sampah
    by Redaksi Biasmedia
    August 8, 2026
    Memungut selembar kertas dari tempat sampah dan menyimpannya selama 49 tahun dan ia percaya bahwa suatu saat bangsa ini akan membutuhkannya.
  • Rotan yang Mendamaikan: Di Balik Bilur, Masyarakat Tengger Menemukan Harmoni
    by Redaksi Biasmedia
    August 8, 2026
    Ujung hadir sebagai penegas: jika kita semua akan berakhir di tempat yang sama, lalu apa gunanya menyimpan permusuhan?
  • Sekolah Alam BSTC: Konservasi Penyu Menjadi Laboratorium Hidup
    by Redaksi Biasmedia
    July 25, 2026
    Di balik gemuruh ombak Pantai Bajulmati yang memecah hening pagi, ada sebuah ruang belajar tanpa dinding yang terus tumbuh dan bernapas.

Tetap Terhubung.

Daftarkan email Anda untuk menerima kurasi artikel, liputan pilihan, dan kabar terbaru langsung di kotak masuk Anda setiap bulan.

Mohon periksa kotak masuk atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan.

biasmedia

BiasMedia merupakan media independen yang menghadirkan berita, opini, cerita, dan perspektif mengenai lingkungan, budaya, masyarakat, serta isu-isu yang berdampak bagi kehidupan.

Rubrik

  • DAUR
  • HAWA
  • SAMUDRA
  • SPEKTRUM
  • BIRD BULLETIN

Ikuti Kami

info@biasmedia.id

© 2026 BiasMedia. All Rights Reserved.