Skip to content
biasmedia
biasmedia
  • DAUR
  • HAWA
  • SAMUDRA
  • SPEKTRUM
  • BIRD BULLETIN
biasmedia
biasmedia

DARI KENTONGAN KE SOUND HOREG: EVOLUSI TRADISI MEMBANGUNKAN SAHUR DI NUSANTARA

Redaksi Biasmedia, March 12, 2026

MALANG, 09/03/2026 – Suara dentuman sound horeg menggetarkan jalanan Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Jombang, pada dini hari Minggu (22/2/2026) lalu. Ribuan pemuda berkonvoi dengan sepeda motor, mengikuti iring-iringan sound system berdaya besar milik Aprelia Production. Di tengah keramaian, seorang penari berbaju ketat berjoget ria di atas jalan, sesekali menerima saweran dari penonton. Video ini langsung viral di TikTok dan memicu polemik nasional.

Peristiwa ini bukan sekadar hiburan dini hari yang kelewat batas. Ia adalah potret menarik dari pergeseran panjang tradisi membangunkan sahur di Indonesia—sebuah tradisi yang akarnya justru bermula dari gotong royong dan solidaritas sosial yang sederhana.

Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara

Tradisi membangunkan sahur di Nusantara telah ada sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum era digital dan sound system modern. Ia lahir dari kebutuhan masyarakat agraris yang belum mengenal listrik apalagi alarm ponsel.

Di berbagai daerah, tradisi ini memiliki nama dan bentuk yang unik. Masyarakat Betawi misalnya, mereka menyebutnya ngarak beduk atau beduk saur, di mana warga berkeliling kampung sambil memukul beduk secara bergantian. Di Banjar, Kalimantan Selatan, ada bagarakan sahur yang dilakukan dengan peralatan sederhana seperti panci, galon air, atau kaleng bekas. Sementara di Semarang dikenal dekdukan, sedangkan di Cirebon menyebutnya dengan istilah obrok-burok, dan di beberapa daerah Jawa lainnya menggunakan kentongan sebagai alat utama .

Suasana patrol tempo dulu tidak menggunakan perangkat elektronik (doc.fb)

Dr. Sarkawi B. Husain, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, menegaskan bahwa tidak ditemukan catatan pasti kapan tradisi ini dimulai. Beliau menduga, tradisi tersebut sudah ada sejak masuknya pengaruh budaya Islam di Nusantara, namun kemudian berakulturasi dengan budaya lokal yang sudah ada sebelumnya, ungkapnya dalam sebuah penelitian beliau.

Perlu digaris bawahi bahwa tradisi ini lahir dari semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Nusantara. Pada masa lalu, ketika alarm jam belum begitu popular atau bahkan belum ada dan rumah-rumah dipinggiran kota masih terpisah jarak, warga secara sukarela bergiliran berkeliling kampung untuk membangunkan tetangganya. Ini adalah bentuk solidaritas sosial yang tulus, tanpa pamrih, dan dilakukan dengan alat seadanya.

Era 2000-an: Lahirnya Fenomena Sahur On The Road (SOTR)

Memasuki awal 2000-an, sebuah fenomena baru muncul di kota-kota besar: Sahur On The Road (SOTR). Awalnya, ini adalah gerakan sosial murni yang lahir dari inisiatif anak muda yang notabene berada di ruang lingkup perkotaan.

Sekelompok pemuda berinisiatif berkeliling kota dengan sepeda motor untuk membagikan makanan sahur kepada mereka yang masih bekerja di jalan: tukang becak, petugas keamanan malam, pemulung, dan tunawisma yang tak sempat pulang ke rumah. Mereka menggunakan motor karena lebih lincah menjangkau sudut-sudut kota.

Kegiatan ini kemudian diadopsi oleh berbagai komunitas motor, organisasi kepemudaan, hingga kelompok-kelompok sosial berbasis hobi. SOTR menjadi tren baru yang memadukan aksi sosial dengan kebersamaan komunitas. Pada tahap ini, esensi tradisi masih tetap terasa dan terjaga kepedulian terhadap sesama.

Namun, seiring popularitasnya, terjadi pergeseran motivasi. Tidak hanya ingin berbagi, mulai muncul keinginan untuk unjuk eksistensi “kelompok”. Konvoi menjadi lebih penting daripada aksi berbagi itu sendiri, posting deplatform media sosial menjadi wajib sebagai pemenuhan Hasrat aktualisasi diri masing – masing diantara mereka. Jumlah peserta membengkak, rute konvoi diperpanjang, dan yang semula sunyi menjadi ramai oleh suara knalpot brong dan teriakan yang terkadang sedikit mengganggu Masyarakat sekitarnya.

Era Digital: Sound Horeg dan Konten Viral

Memasuki peradaban pure digital dan kendali penuh media sosial, tradisi ini bertransformasi lagi. Kemunculan sound horeg—sound system berdaya besar yang biasa digunakan untuk konser atau panggung hiburan—merambah ke tradisi sahur.

Komunitas sound horeg yang biasanya berada disebuah Lokasi tertentu seperti pada acara hajatan atau pasar malam, kini dilirik untuk meramaikan sahur keliling. Daya tariknya jelas: suara menggelegar yang bisa terdengar hingga radius kilometer, lampu-lampu warna-warni yang menyala, dan tentu saja, potensi untuk menjadi konten viral. Di sinilah titik kulminasi pergeseran terjadi. Motivasi sosial mulai bercampur dengan motivasi konten. Berkeliling sahur tidak lagi sekadar membangunkan atau berbagi, tetapi juga mencari “momentum” yang layak diunggah ke TikTok, Instagram, atau YouTube.

Ketika Tradisi Berubah Menjadi Panggung

Peristiwa yang terjadi di Jombang beberapa waktu lalu (22/02/2026), menjadi contoh paling gamblang dari transformasi ini. Di ruas jalan penghubung dua desa, acara sahur keliling berubah menjadi konser jalanan dengan sound horeg dan atraksi dancer.

Video yang beredar menunjukkan seorang penari wanita berjoget di tengah jalan dengan iringan musik dangdut koplo yang menggelegar dari sound horeg. Kerumunan pemuda berkonvoi motor memadati jalan, sementara beberapa orang terlihat menyawer uang kepada penari tersebut.

konten viral beberapa waktu lalu dimedia massa (doc.google)

Yang menjadi sorotan, kegiatan yang dimulai sekitar pukul 02.00 dini hari ini menyebabkan kemacetan panjang hingga pagi hari. Warga yang tidak ikut serta terpaksa terbangun oleh suara sound system yang menggema. Jalan yang seharusnya lengang di dini hari berubah menjadi panggung hiburan dadakan.

Menyikapi dengan Bijak: Merawat Tradisi di Tengah Perkembangan Arus Zaman

Lantas, bagaimana kita menyikapi fenomena ini? Apakah tradisi membangunkan sahur harus dihentikan? Tentu tidak. Namun, kita perlu bijak dalam melestarikannya.

Pertama mungkin pahami bahwa tradisi itu sangatlah dinamis. Ia akan terus berubah seiring perkembangan zaman, yang perlu dijaga bukanlah bentuk fisiknya, melainkan ruh atau semangatnya. Jika semangat awalnya adalah kepedulian sosial dan gotong royong, maka apapun bentuk modernnya, semangat itu harus tetap terpelihara.

Tradisi membangunkan sahur adalah warisan budaya yang menghubungkan kita dengan generasi terdahulu. Ia lahir dari kearifan lokal masyarakat Nusantara yang menjunjung tinggi gotong royong dan kepedulian sosial.

Sound horeg, konvoi motor, dancer, hingga konten viral mungkin itu merupakan wajah baru dan bagian dari tradisi yang terus berkembang hingga hari ini. Tidak masalah sebuah tradisi bertransformasi—itu bukti ia masih hidup. Namun, transformasi haruslah transformasi yang tetap mengedepankan adab dan nilai – nilai moral yang semestinya bisa dipertanggungjawabkan.

Ketika kentongan berubah menjadi sound horeg, dan teriakan “sahur…sahur…” berubah menjadi joget dancer, kita perlu bertanya: Masih adakah semangat gotong royong di dalamnya? Ataukah kita hanya sedang mencari tontonan yang sama sekali tanpa makna?

Mari kita rawat tradisi membangunkan sahur dengan cara yang beradab. Karena tujuan mulia haruslah diiringi dengan cara yang mulia pula. Tradisi yang baik adalah yang membawa kebaikan bagi semua, bukan hanya bagi segelintir orang yang ingin viral. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kebutuhan akan eksistensi, jangan sampai kita kehilangan esensi: bahwa tradisi ini lahir dari rasa, untuk sesama, oleh kita semua.

Spektrum Uncategorized biasmediapatrolsahursoundhoregviral

Post navigation

Previous post
Next post

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What's Next Event !

Recent Posts

  • “Menolak Berhenti Adalah Pilihan” : 30 Tahun Perjalanan Terjal Antiphaty di Skena Punk Kota Malang
  • Hardiknas 2026 Menjadi Alarm: BEM Nusantara Jawa Timur Tegaskan Komitmen Kawal Pendidikan
  • The Blinders: Perjalanan Band Hardcore Lubuklinggau dari EP Perdana hingga Tur Jawa-Bali
  • Bukan Sekadar Idol: Sunflow Menyulutkan Api Lewat “Goddess of Fire”
  • DARI KENTONGAN KE SOUND HOREG: EVOLUSI TRADISI MEMBANGUNKAN SAHUR DI NUSANTARA

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • May 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024

Categories

  • Bird Bulletin
  • Daur
  • Hawa
  • Samudra
  • Spektrum
  • Uncategorized
©2026 biasmedia | WordPress Theme by SuperbThemes