Lebih dari Sekedar Acara Musik: Malang Violance adalah Wujud Nyata Kolektifitas Redaksi Biasmedia, February 21, 2026February 21, 2026 MALANG RAYA – Di balik kesuksesan Malang Violance, ada nama Rehan dibelakangnya. Pria muda asal Singosari ini memang bukan seorang promotor musik besar. Ia adalah seorang kreator lokal yang namanya justru dikenal lewat sebuah brand clothing bernama Malang Violance—yang memproduksi produk berupa kaos, hoodie dan sejenisnya dengan identitas visual yang keras dan tegas. “Malang Violance itu awalnya hanya brand clothing saja. Tapi kalau kita pas ngumpul di tongkrongan, selalu ada obrolan tentang musik, tentang kapan kita punya ajang atau wadah sendiri,” ujar Rehan saat ditemui baru-baru ini. Obrolan itulah yang kemudian menjadi akar dari segalanya. Pada 31 Juli 2025 lalu, ide untuk mengembangkan nama brand menjadi sebuah gerakan event musik mulai tercetus. Butuh waktu dan diskusi panjang, hingga akhirnya pada 14 Oktober 2025, Malang Violance Vol. 1 sukses digelar. Malang Violance Vol. 1 boleh dibilang sebuah kejutan. Menghadirkan 10 band lokal Malang dari berbagai macam latar belakang, acara ini sukses membuat venue penuh sesak. Ratusan orang datang, memadati sudut-sudut ruangan, menciptakan energi yang selama ini mungkin terpendam bagi anak – anak muda yang ada di Singosari. “Ini bukan kerja saya sendiri. Ini kerja kita semua. Rekan – rekan band, crew, sampai penonton yang datang, mereka semua adalah bagian dari kolektifitas ini,” jelas Rehan. “Kesuksesan Vol. 1 adalah milik kita bersama.” Kesuksesan itu bukan hanya soal jumlah penonton, tapi juga soal atmosfer. Malang Violance Vol. 1 berhasil membuktikan bahwa Singosari bisa menjadi episentrum baru bagi salah satu gerakan musik keras di Malang Raya. Dari sinilah, semangat untuk melanjutkan panggung ini ke babak selanjutnya tak makin tak terbendung. Jika Vol. 1 menjadi ajang pembuktian, maka Malang Violance Vol. 2 yang direncanakan hadir pada akhir Maret mendatang adalah sebuah pernyataan. Rehan dan kawan-kawan tidak hanya ingin mengulang kesuksesan, tetapi juga melebarkan sayap. Perbedaan itu paling terasa dari deretan pengisi acara. Jika sebelumnya 100 persen diisi band lokal Malang, kali ini Malang Violance Vol. 2 mencoba untuk menghadirkan tamu spesial dari Yogyakarta. Tiga nama siap melintasi batas Kota untuk meramaikan panggung Singosari yaitu: Sun Flow, Sufferance, dan Knocked Back. Kemudian satu lagi yang tak kalah menakjubkan yaitu hadirnya The Blinders band asal Sumatera yang juga dikabarkan turut hadir dan memeriahkan perhelatan tersebut. Kehadiran tiga band asal Yogyakarta dan 1 band lagi dari luar jawa ini menjadi sinyal bahwa Malang Violance tidak hanya ingin didengar secara lokal, tapi ingin menjalin solidaritas yang lebih luas lagi. Tentu saja, panggung tetap akan dihangatkan oleh band-band hardcore Malang yang sudah terkonfirmasi, seperti Children of Terror dan Screamsick 99, yang siap menghentak panggung dengan energi khas mereka. Bagi Rehan, Malang Violance bukan sekadar tontonan. Ini adalah ruang berkumpul, ruang bertukar energi, dan ruang di mana musik underground menjadi perekat. Untuk itu, bagi kalian yang berada di sekitar Malang Raya, tiket Malang Violance Vol. 2 bisa didapatkan secara offline di titik-titik yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Sementara bagi kalian yang berada di luar kota, termasuk para pendatang dari Yogyakarta yang mungkin penasaran dengan aksi band-band kotanya, tiket dapat dipesan secara online melalui Artatix.co.id. Spektrum biasmediamusikpop culturesingosariunderground