Governmentality: Regulasi Cukai sebagai Bentuk Biopolitik Modern Redaksi Biasmedia, December 26, 2025December 26, 2025 CUKAI ROKOK: BUKAN CUMA SOAL UANG, TAPI CARA NEGARA NGATUR HIDUP LO!Dari harga rokok mahal, perang rokok ilegal, sampai industri yang main shadow game. Gimana aturan pemerintah nge-grip tubuh dan pikiran kita? Let’s expose. Ketika mendengar kata “cukai rokok”, pikiran kita langsung: “Ah, biar rokok mahal, biar pada berhenti ngerokok.” Tapi mari kita liat lebih dalem. Ini bukan cuma soal pajak atau kesehatan aja ya. Ini adalah bentuk Bio-Politik Modern paling keren sekaligus licik yang negara mainin. Konsep Governmentality dari Foucault intinya gini: negara nggak cuma ngatur lewat kekerasan, tapi lewat teknik halus yang ngatur kebiasaan, pilihan, bahkan tubuh kita. Nah, cukai rokok itu salah satu alat utamanya. Apa Sih yang Lagi Dibahas?Ini tentang regulasi cukai hasil tembakau (rokok). Cukai itu pajak spesifik yang ditempel ke barang-barang tertentu (kayak rokok, alkohol) buat dua alasan: ngumpulin duit buat negara (fiscal) dan ngendaliin konsumsinya (regulatory). Di Indonesia, cukai rokok itu salah satu penyumbang terbesar buat APBN, tapi di sisi yang berseberangan, dia juga jadi alat buat mengendalikan perilaku 60 juta lebih perokok di Indonesia.Tapi di balik itu, ada perang terselubung: (rokok legal vs rokok ilegal, industri besar vs industri kecil, kampanye kesehatan vs iklan yang manipulatif.) Ini medan pertarungan di mana tubuh kita (sebagai perokok atau bukan) jadi arena politik. 4 Faktor Penting yang Berpengaruh :The Regulator (Pemerintah): Punya dua topeng. Sebagai pengumpul dana, mereka butuh rokok laris. Sebagai pelindung kesehatan, mereka harus bikin orang berhenti merokok. Dilema abis!The Industry (Pabrik Rokok): Raksasa yang pinter banget mainin sistem. Mereka punya taktik licin: lobi politik kuat, iklan yang bikin rokok keliatan “prestisius” atau “rebellious”, dan main di area abu-abu (rokok filter, low tar, atau produk alternatif yang masih jadi perdebatan).The Citizens (Kita, Gen Z): Target utama. Kita yang diem-diem diatur. Harga rokok yang naik bikin kita semua mikir ulang buat beli. Tapi di sisi lain, kita juga di-bombardir sama iklan rokok di warung – warung, toko klontong, event musik, dan medsos. Tubuh dan kantong kita jadi medan perang.The Illegal Market (Pasar Gelap): Muncul sebagai penyelamat palsu. Ketika harga rokok legal melambung karena cukai, rokok ilegal (tanpa cukai, harga murah) masuk. Ini adalah efek samping langsung dari biopolitik yang gagal. Kapan dan Dimana ini Menjadi Isu Kritis?Sekarang banget!. Setiap tahun, pemerintah ngumumin kenaikan cukai rokok. Itu ritual tahunan yang selalu bikin industri ngamuk, aktivis kesehatan senyum-senyum, dan perokok biasa mengeluh. Tapi puncaknya adalah ketika kita sadar bahwa di era media sosial dan kesadaran kesehatan mental, kontrol negara terhadap kebiasaan kita makin kompleks. Ditambah lagi, pandemi nunjukin bahwa perokok disebut lebih rentan, yang bikin intervensi negara terhadap tubuh kita makin dianggap wajar. Di Kantong Kita: Harga rokok di warung itu hasil akhir dari perang kebijakan. Di Tubuh Kita: Setiap hisapan adalah bentuk perlawanan atau kepatuhan terhadap aturan kesehatan negara. Di Dunia Digital: Iklan terselubung di Instagram/Tiktok bikin rokok tetep cool, sementara campaign #BerhentiMerokok nyerang balik. Di Pasar Gelap: Warung-warung tertentu yang jual rokok luar atau tanpa pita cukai adalah zona perlawanan terhadap otoritas fiskal negara. Kenapa Tiba – tiba Penting ?Karena kita semua lagi dididik jadi subjek yang “baik” tanpa kita sadari. Negara pengin kita jadi warga yang: Sehat (nggak memberati BPJS), Selalu Produktif (nggak sakit-sakitan), dan Taat & Patuh (bayar pajak/cukai dengan ikhlas). Tapi industri rokok juga pingin kita jadi konsumennya yang loyal, yang ngerokok sebagai bagian dari identitas: gaya, pelarian stres, atau simbol pemberontakan. Kita terjepit di tengah – tengah men. Setiap kali kita milih untuk beli rokok legal, ilegal, atau berhenti sama sekali, kita ni udah ikut serta dalam permainan biopolitik ini. Intinya kita semua nggak bebas sebebas-bebasnya lah. Kira – kira gini Mekanisme & Realita Kasarnya: Cara Kerja Biopolitik: Negara naikin cukai → harga rokok naik → akses kita dibatesin → secara teori, kita mengurangi atau berhenti. Tubuh kita jadi lebih sehat sesuai standar negara. Kenaikan rata-rata cukai 10% per tahun. Imbasnya, harga sebungkus rokok bisa tembus Rp 30-40 ribu untuk merek tertentu. Itu disinsentif finansial yang langsung ke kantong kita ya men. Efek Manipulasi Industri: Industri nggak tinggal diam. Mereka bikin rokok ultra mild (seolah-olah lebih sehat), atau gencar promosi produk tembakau alternatif (vape, heated tobacco, dst) yang aturan cukainya sendiri juga belum jelas. Mereka ciptakan pasar baru di tengah tekanan. Ini adalah manipulasi terhadap risiko. Bom Waktu: Rokok Ilegal. Karena harga melambung, pasar gelap merajalela. Asosiasi produsen rokok mengklaim pangsa rokok ilegal bisa mencapai 20% dari total pasar. Artinya, dari 60 juta perokok, bisa jadi 12 juta orang konsumsi rokok di luar kendali mutu dan pengawasan negara. Di sini, kontrol negara gagal total bosku. Justru yang muncul adalah pasar liar yang lebih berbahaya. Realita Sosial: Bagi banyak anak muda, rokok ilegal (dengan harga Rp 10-15 ribu) adalah satu-satunya pilihan. Alhasil, upaya melindungi kesehatan malah memaksa mereka mengonsumsi produk yang lebih tidak terjamin keamanannya. Ironis, kan? Oke deh, jadi gini men. Regulasi cukai rokok adalah pertunjukan biopolitik tingkat tinggi. Pemerintah tuh pura-pura ingin kita sehat, tapi di saat bersamaan, sangat ketergantungan pada uang dari rokok untuk membiayai Negara. Sedangkan Industri rokoknya juga bermain di kedua sisi: patuh bayar cukai (tapi harganya dibebankan ke kita), sambil menyusupkan pesan bahwa merokok adalah bagian dari kebebasan. Buah Simalakarma: Kalau cukai terlalu tinggi, perokok beralih ke pasar gelap dan Negara makin kehilangan kendali. Kalau terlalu rendah, target kesehatan dan pendapatan meleset. Di tengah semua kalkulasi ini, tubuh kita auto jadi komoditas sekaligus medan perang. Jadi, lain kali kalo lihat harga rokok naik atau iklan rokok di Instagram, jangan cuma lihat itu sebagai sebuah kebijakan atau iklan semata. Itu adalah salah satu cara negara dan kapital ngatur napas, selera, dan hidup kita. Sadar atau nggak, kita lagi digovern. So, the real question is: are you a obedient subject, or are you gonna see through the game? Artikel ini sebatas eksplorasi kritis ya men. Bukan ajakan untuk merokok atau membeli rokok ilegal. Pilihan paling rebellious mungkin justru punya kesadaran penuh atas tubuh dan pikiran sendiri, di luar skema yang disiapkan oleh negara maupun pasar. Spektrum biasmediafenomena rokokindustri tembakaupop culturerokok ilegal